Vanilla Sponge Cake ala Josephine oleh Saya

Kemarin saya izin tidak ke kantor karena cuapek dan sedang tidak ingin bertemu orang. Kalau sedang tidak ingin bertemu orang, ada 3 hal yang paling mungkin saya lakukan: leyeh-leyeh sembari berpikir supaya agak produktif, main musik, atau bikin kue. Paling sering sih memang leyeh-leyeh soalnya why not???

Tapi karena kemarin saya juga capek, saya tidak bisa main musik atau nyanyi. Soalnya salah satu indikasi saya capek adalah tiroid saya yang membengkak sehingga susah nafas apalagi bernyanyi. Yasudah, setelah saya leyeh-leyeh sambil mikir dari pagi sampai sore, akhirnya saya memutuskan untuk bikin kue setelah maghrib.

Selesai maghrib, saya buka youtube dan mencari resep spongecake. Pilihan saya jatuh ke channelnya Josephine’s Recipe yang manakutahudiasiapa. Setelah itu saya catat resepnya di buku hasil pemberian  DediEnkuldez.

Ini linknya, ya: https://www.youtube.com/watch?v=hJn0Yv9K2tM

Oh, tentu saja kamu malas klik linknya karena kamu ke sini untuk dapat resepnya langsung kan hummmm. Mari, saya tunjukkan.

Resep Vanilla Spongecake
Ini resep yang saya tulis di buku biar nggak perlu buka-buka smartphone lagi untuk nyontek.

Ada 3 bahan yang saya substitusi pada praktiknya, yaitu corn oil menjadi minyak goreng biasa, vanilla extract cair menjadi Vanili Crystal oleh Koepoe Koepoe, dan lemon menjadi jeruk nipis. Alasannya? Yang ada itu sih di rumah.

Jadi terlihat ya di situ kalau saya akan butuh 2 wadah untuk mixing: kelompok kuning telur dan kelompok putih telur.

Kelompok Kuning Telur (yang tidak menyenangkan)

Saat saya mencampur 5 kuning telur, gula, dan minyak semuanya terasa dan terlihat baik-baik saja dan mirip dengan apa yang Josephine (atau siapapun talent yang memainkan peran sebagai juru masak) di videonya. Tidak ada yang perlu terlalu diperhatikan pada tahap ini. Lalu tibalah saat menambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil tetap mengaduknya.

Konsistensi adonan menjadi berat dan mulai susah diaduk menggunakan whisker. Adonan mulai menempel pada whisker sampai akhirnya dia jenuh, begitu pun saya. Padahal, di video Josephine, tahap ini tetap menghasilkan adonan yang ringan. Entah mengapa saya sungguh inisiatif menambahkan minyak goreng sebanyak 40 gr lagi. Apakah ini langkah yang tepat? Tidak sih.

Kelompok Kuning Telur
Eeeeee elek tenan

Karena malas berurusan dengannya lagi, saya pindah ke kelompok berikutnya.

Kelompok Putih Telur

Sering kali saya mendapati diri ini bahagia kalau menonton tayangan orang yang mengocok campuran putih telur dan gula dengan mixer. Soalnya mereka sering terlihat bahagia juga. Kemarin adalah kali pertama saya melakukan ini. Uh, pengalaman pertama memang seringnya menyenangkan~

Saya gunakan mixer Phillips dengan kecepatan tertinggi kira-kira 1 menit. Lalu saya merasa belum cukup dan saya kembali mencampurnya sampai saya puas. Mana saya tahu harus berapa lama. Pokoknya kalau saya sudah ingin berhenti, ya saya hentikan.

Kelompok Putih Telur
Saya sih sudah puas dengan hasil ini. Clue: saya memang cepat puas.

Setelah memiliki dua campuran ini, sudah waktunya kita beranjak ke tahap berikutnya, yaitu mencampur!

Agar mudah, masukkan satu scoop Kelompok Putih Telur ke Kelompok Kuning Telur. Tahap ini cukup membahagiakan saya karena adonan kuning telur berangsur menjadi lebih cair dan ringan , yay!

Mencampur!
Si Kelompok Kuning Telur mulai kembali mirip seperti di tayangan video Josephine

Setelah cukup cair, kali ini tuangkan campurkan Kelompok Kuning Telur ke Kelompok Putih Telur. Pastikan semuanya tercampur rata, ya. Kalau sudah, kamu bisa mulai siapkan loyang yang bisa menampung mereka semua. Jangan lupa oleskan mentega/margarin ke loyangmu.

Oh iya, ini penting! Usahakan juga gunakan baking/parchment paper! Saya tidak punya kertas ini jadi saya skip bagian ini. Tapi, please, gunakan ini!

Saya menggunakan loyang persegi panjang ukuran 10×28 cm. Masih ada harganya pula. Setelah itu letakkan loyang di atas loyang yang lebih besar dan isi loyang tersebut dengan air secukupnya. Kenapa diisi air?

Kita akan butuh uap-uap air untuk mengisi rongga-rongga kue nantinya sehingga cita-cita membuat Spongecake tercapai.

Ke Loyang!
Masukkan adonan ke loyang dan letakkan loyang dalam loyang lebih besar. Uh, loyang-ception. Isi loyang besar dengan air secukupnya.

Setelah itu, panggang!

Untuk kue ini, kamu tidak perlu memanaskan oven terlebih dahulu karena ya Josephine berkata seperti itu jadi saya menurut.

Atur oven dengan suhu 145 Celcius, 45 menit. Saya menggunakan oven gas dari Electrolux.

Memanggang!
Wah, ovennya terlihat kotor. Oh iya, saat adonan mulai dipanggang, saat itu pula waktunya berdoa.

Ini menegangkan! Adonan mulai mengembang dan saya sempat berpikir kalau loyangnya tidak cukup. Tapi jangan panik, keuntungan dari percaya pada Tuhan adalah kita bisa berdoa dan menjadi lebih tenang eheheheheheh.

Saat menit ke-40, Mama saya berkata: “Dek, gosong!”

😦

Akhirnya saya menghampiri oven dan melihat kondisinya. Memang sih, kue sudah terlihat coklat. Namun saya mau memastikan dahulu kalau dia benar-benar sudah matang. Saya tidak punya tusuk gigi atau tusukan semacamnya, maka saya mengambil sumpit kayu dan menusuk bagian sudut kiri depan.

Bolong
Bolong di pinggir, hasil tusukan dengan sumpit.

Saat sumpit diangkat, tidak ada adonan kue yang menempel sehingga saya asumsikan bahwa sudah matang dan waktunya mengeluarkannya dari oven. Padahal saat itu masih ada sisa sekitar 5 menit kalau berdasarkan jurus jitu Josephine.

Hal paling cupu adalah saya selalu ketakutan lagi, lagi, dan lagi setiap saya harus mengeluarkan loyang panas dari dalam oven. Tapi saya kan bisa juga jadi pemberani, jadinya ya sudah saya keluarkan karena ya memang harus!! 😦

Aaaah bahagia sekali. Oh iya, tadi saya sudah menyinggung tentang menggunakan parchment paper kan? Iya, itu penting. Karena kalau tidak pakai, bisa-bisa kamu sedih seperti saya. Soalnya saat saya mencoba membalikkan kue yang telah dikeluarkan dari loyang, hasilnya jadi…

Oh Tidak!
Elek tenan..

 

Saya sedih, Jujur, saya sempat mau menyalahkan Mama saya karena bilang kuenya gosong padahal seharusnya percaya diri saja sama jurus jitu Josephine untuk memanggang selama 45 menit. Sedih. Tidak pakai bohong, sesedih itu 😦 Bisa terlihat juga ternyata kue ini dalamnya tidak teratur, tidak seperti Spongecake yang layak jual dengan ukuran pori-pori seragam.

Kue saya justru memiliki pembawaan jigly yang tidak disengaja. Kue apa ini!!!

Baiklah. Saya sering sekali mudah bersedih namun bisa sesegara mungkin kembali bergembira. Maka saya mencoba mengakalinya dengan menambahkan gula halus yang tetap saja membuatnya elek tenan. Setelah berpikir lebih dalam, akhirnya saya memutuskan untuk mengupas jeruk yang ada di dapur.

Saya kemudian membuat larutan gula dan mencelupkan jeruk ke dalamnya. Selanjutnya, saya mencoba menutupi bolongan yang ada di atas kue. Hikmahnya? AIB MEMANG SEBAIKNYA DITUTUPI!

KUE
Uuuuuuuuuuw sayang

Saya lalu mengambil sejumlah gambar untuk kepentingan pencatatan perjalanan membuat kue seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Soal aroma, rasa, tekstur? LUMAYAN! Harus saya akui sih, saya tidak kecewa. Secara keseluruhan saya memberi nilai 7/10.

Potongan Kue
Lumayan

Jadi, begitu deh.

Sudah ya,

Afi Wiyono

 

***

Tulisan ini merupakan bagian dari seri #Amati2r (dibaca amati amatir), yaitu gerakan saya untuk mendokumentasikan segala kegiatan belajar saya, apa pun itu! Suka-suka!

Advertisements